Sunday, May 22, 2022
spot_img
HomePENDIDIKANRestitusi Sebagai Upaya Budaya Positif Mewujudkan Merdeka Belajar

Restitusi Sebagai Upaya Budaya Positif Mewujudkan Merdeka Belajar

 Oleh : Kenyo Putri Gayatri, Calon Guru Penggerak Angkatan 4 SMP N 9 Seluma Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu

Anda adalah seorang guru. Imajinasikan anda berada di situasi berikut 

Kasus 1 : Budi adalah siswa di sebuah Sekolah Menengah Pertama. Suatu hari dia terlambat datang ke sekolah. Guru yang sudah mengajar di kelasnya berkata sebagai berikut:

Budi kenapa kamu terlambat lagi, pasti terlambat lagi, selalu datang terlambat, 

kapan bisa datang tepat waktu?” 

Kasus 2 : Budi adalah siswa di sebuah Sekolah Menengah Pertama. Suatu hari dia terlambat datang ke sekolah. Guru yang sudah mengajar di kelasnya berkata sebagai berikut ;

Guru : “Budi, apakah kamu tahu jam berapa sekolah masuk?” 

Budi : “Tahu Pak, jam 7:30!” 

Guru : “Ya, jadi kamu terlambat, kira-kira bagaimana kamu akan memperbaiki masalah ini?” Budi : “Saya bisa bertanya kepada teman saya Pak, untuk mengejar tugas yang tertinggal.” 

Guru : “Baik, itu bisa dilakukan. Apakah besok akan ada masalah untuk kamu agar bisa hadir tepat waktu ke sekolah?” 

Budi : “Tidak Pak, saya bisa hadir tepat waktu.” 

Guru : “Baik. Saya hargai usahamu untuk memperbaiki diri”

Dari kedua kasus di atas apa yang dapat anda simpulkan ? Bagaimana perasaan anda jika anda adalah siswa di kasus 1? Apa yang anda rasakan jika anda siswa di kasus 2? Dapatkah anda merasakan perbedaanya ? 

Ki Hajar Dewantara dalam filosofinya mengemukakan bahwa pendidikan adalah segala daya upaya dalam memunculkan atau menebalkan minat dan bakat siswa sehingga meraih kebahagiaan lahir batin. Pendidikan itu sendiri berbeda dari pengajaran. Sementara pengajaran itu sendiri merupakan bagian dari pendidikan. Pengajaran adalah proses mentransfer ilmu dari guru kepada murid. Guru mengajarkan materi di dalam kelas. Sedangkan pendidikan memiliki cakupan yang luas. Peran guru dalam mendidik mencakup mental, spiritual, emosional dan menumbuhkan minat dan bakat yang sudah ada. Ki Hajar Dewantara sejatinya mengemukakan bahwa anak adalah sehelai kertas yang sudah ditulisi penuh hanya saja kertas tersebut masih buram atau suram. Tugas pendidikanlah untuk menebalkan dan memunculkan bakat dan minat tersebut. Pemikiran Ki Hajar Dewantara ini sejalan dengan program merdeka belajar yang sedang dicanangkan oleh pemerintah. Merdeka disini bukan berarti kebebasan secara negatif tetapi merupakan suatu bentuk untuk memunculkan kreativitas siswa untuk melakukan inovasi sesuai dengan arah perkembangan abad industri 4.0.

 Mengapa budaya positif itu penting dalam proses merdeka belajar ? Dalam melakukan perubahan diperlukan sebuah budaya positif. Budaya positif merupakan sebuah upaya untuk menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Dalam budaya positif erat kaitannya dengan disiplin positif.

 Apa itu disiplin positif ? selama ini kita menganggap bahwa disiplin adalah sebuah ketaatan atau kepatuhan terhadapa aturan dan cara. Mari kita lihat dari perspektif yang lebih luas. Sebuah disiplin positif lebih menerapkan kepada motivasi intrinsik atau kesadaran dari dalam diri siswa untuk melakukan sebuah perbaikan. Peran guru sangat penting di sini. Untuk mewujudkan disiplin tersebut guru memerlukan sebuah kepercayaan bahwa murid bisa berkembang dan bertumbuh kearah yang positif. Jika guru memercayai hal ini niscaya sebuah jalan yang akan dilakukan untuk mendidik siswa lebih mengedepankan sisi humanis dari pada ketaatan sesaat saja. 

 Dari contoh kedua kasus di atas dapat kita tarik kesimpulan. Yang pertama guru menerapkan pola hukuman. Pola ini bisa membuat siswa disiplin tetapi disiplin yang terbentuk adalah disiplin sesaat saja. Bahkan dengan penerapan pola hukuman ini bisa berdampak negatif kepada siswa. Contohnya siswa merasa tidak terima dan menjadi dendam jika guru menerapkan pola ini berulang kali dan berlebihan. Berbeda dengan kasus yang kedua. Pada pola ini guru menerapkan restitusi dengan pola manajerial. Pola manajerial adalah guru menerapkan disiplin dengan cara mengembalikan tanggung jawab pada murid untuk mencari jalan keluar permasalahannya tentu saja dengan bimbingan guru. Di sini guru menuntun siswa untuk menggali lebih dalam keyakinan yang dimilikinya. Keyakinan apa yang ada dalam diri siswa sehingga siswa mampu memahami apa yang telah dilakukan dan solusi apa yang dia ambil untuk memecahkan masalah. Siswa akan mengevaluasi dirinya sendiri bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik. 

 Tentu saja dalam menerapkan menerapkan disiplin positif tidak bisa instant. Diperlukan kesabaran dan kontinyuitas dalam menerapkannya. Kesabaran dan ketaletanan apalagi jika dihadapkan pada budaya yang berbeda-beda di sekolah. Guru harus mampu menelaah dan menyesuaikan dengan karakteristik siswa yang berbeda-beda. Dengan demikian restitusi bisa menjadi pilihan untuk mewujudkan disiplin positif yang merupakan akar dari budaya positif itu sendiri. Untuk mengembangkan budaya positif diperlukan disiplin positif. Untuk mewujudkan itu guru harus mampu menerapkannya demi menciptakan suasana belajar yang nyaman dan memiliki pengaruh positif agar siswa mampu mengaktualisasi dirinya demi menjadi insan pelajar yang dicita-citakan dalam merdeka belajar.(apr)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments