Sunday, May 22, 2022
spot_img
HomeBENGKULUSejarah dan Asal Nama Desa Sakaian

Sejarah dan Asal Nama Desa Sakaian

LUBUK SANDI – Desa Sakaian adalah salah satu desa yang namanya diabadikan dari kejadian alam dimasa lampau. Desa ini terletak di sepanjang jalan nasional di Kecamatan Lubuk Sandi Kabupaten Seluma. Sakain diambil dari kata nyakai berati banyak berserakan dan tak beraturan dengan ritme tidak menentu. 

Nama Sakian diambil dari kejadian dimasa lampau, dan kejadian itu terus berulang dengan waktu yang tidk dapat diprediksi kapan datangnya. Asal katanya adalah NYAKAI berari banyak dan berserakan, berati juga banyak tidak beraturan dengan waktu hanya sewaktu waktu saja. Kemudian kata nyakai tersebut menjadi sakaian bermakna tempat kejadian yang dimaksud.

Dari penuturan kades Sakaian Suparmanto (52 th) kejadian yang terus berulang tersebut adalah kejadian alam dimasa lampau. “Sejak dulu nama sakaian sudah ada namun masih dusun, sedang pemerintahan desanya adalah desa kembang tanjung (desa gunung agung sekarang). Sakaian merupakan dusun diwilayah selatan dari gunung agung yang berbatasan langung dengan desa rena panjang. Diwilayah itulah (sekarang desa sakian) berulang kali kejadian alam yang sampai sekarang tidak diketahui penyebab secara riilnya,” ujarnya. 

Dulu ditengah desa atau jalan protokol melintas siring yang sekarang tepatnya berada ditengah jalan nasiolan. Siring itu adalah untuk mengairi persawahan disebelah barat jaln utama. Disepanjang siring tersebut jika musim hujan atau banjir selalu dipenuhi bebatuan kecil seukuran kerikil yang berserakan, batu tersebut merupakan batu berwarna sepertu bebatuan kecil yang terbenam didalam tanah. Saat banjir bebatuan tersebut karena banyak dan berserakan, warga menyebutnya NYAKAI tepatnya nyakai batu. 

“Batu yang nyakai tersebut akan sirna dengan sendirinya seiring waktu tanpa diambil atau dipungut ataupun dimnfaatkan oleh warga, perginyapun tidak diketahui kapan dan kemana. Tempat batu berserakanlah akhirnya terjadi kata sakaian yang berarti tempat nyakai,” urainya.

Kemudian, dengan kamajuan zaman persawahan berubah menjadi pemukiman, karena tebat tempat pangkal air siring rusak, dan siring dialirkan ke sungai yang dibuat jembatan menyeberangi jalan sekarang. 

“Sekitar tahun 1970an atau dizaman pasirah cudak, dikarenakan tebatnya runtuh, dan air tidak bisa mengairi persawahan di seberang jalan, maka siring dialirkan ke sungai, dan persawahan beralih fungsi menjadi pemukiman warga. Dengan pindahnya aliran siring tersebut kejadian alam juga terjadi, namun berubah bentuk. Kalau sebelumnya nyakai batu, maka setelah itu jika air banjir maka yang nyakai bukan lagi batu melainkan ikan, yang paling banyak ikan palau. Dimasa masa nyakai ikan palau itulah banyak warga yang ketiban rezeki jika terjadi banjir. Sangking banyaknya ikan nyakai tersebut alat tangkap ikan bernama bubu, dimanapun dipasan tidak mesti berbaris sejajar dengan aliran air, atau dipasang diatas bubu orang lain dan bahkan dipasang dihulunyapun tetap banyak dapat ikan yang masuk kedalam bubu. Bubu sedikit banyak dapat, bubu banyapun ukn yang didapat jug masih banyak,” kenangnya.

Sekarang dusun sakaian menjadi desa devinitif bernama desa sakain. Perubahan status dari dusun menjadi desa berkat pemekaran desa tahun 2010 dari Desa Gunung Agung. Pada saat peresmian tanggal 14 April 2010 dengan pemerintahn desa dipimpin oleh seorang PJS yang bernama Herman Yuri, dan dia memimpin selama 8 bulan. Kurun waktu 8 bulan tersebut PJS membentuk kelengkapan pemerintahan sebuah desa termasuk melaksanakan pemilihn kepala desa. 

Akhirnya kades pertama dilantik tanggal 11 Januari 2011 yang bernama Suparmanto. Setelah selesai periode pertama, Suparmanto kembali dilantik untuk periode kedua tanggal 22 September 2017, dan menjabat hingga sekarang.

Desa Sakaian memiliki lahan seluas 493 HA dengan jumlah penduduk sebanyak 144 KK dan jumlah jiwa sebanyak 450 orang. Penduduk sebagian besar berprofesi sebagai petani kebun dan berbagai profesi lainnya seperi pedagang, karyawan swasta dan lain lain.

Aset wisata yang dimiliki embung yang dijadikan kolam pemancingan, dua buah air terjun.

Desa yang dilewati jalan nasional sekitar 2 KM ini dengan berbatasan desa sekitar yaitu sebelah selatan berbatasan dengan Desa Rena Panjang, sebelah timur Tanjung Kuaw, sebelah utara Gunung Agung dan sebelah barat Rena Panjang dan Gunung Agung. (**)

Penulis : M. Rasul, Radar Seluma

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments